Plagiarism Checker X Originality Report

Plagiarism Quantity: 20% Duplicate

Date Jumat, Agustus 14, 2020
Words 708 Plagiarized Words / Total 3510 Words
Sources More than 51 Sources Identified.
Remarks Medium Plagiarism Detected - Your Document needs Selective Improvement.

Fisioterapi Dada dan Steem Inhaler Aromatheraphy dalam Mempertahankan Kepatenan Jalan Nafas Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis di RSUP dr Kariadi Semarang Daya1, Nury Sukraeny2 1Mahasiswa Profesi Ners, Universitas Muhammadiyah Semarang 2Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah Semarang Abstract Background: Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is defined as a disease or pulmonary disorder that provides ventilation abnormalities in the form of obstruction of the respiratory tract that is progressive and not completely reversible. Symptoms that often appear in COPD patients are shortness of breath and excess sputum production.

Case studies conducted on obstructive pulmonary disease patients in RSUP Dr. Kariadi Semarang showed patients with chronic obstructive pulmonary disease experienced overproduction of sputum which eventually disrupted airway patency. Chest physiotherapy and steem inhalers are non-pharmacological therapies aimed to reduce phlegm and tightness in patients with excess secretions. Method: Case study method for 2 respondents with nursing care approach for patients with chronic obstructive pulmonary disease who were given chest physiotherapy intervention and steem inhaler aroma therapy for three consecutive days before the patient have a meal.

Measurement of airway patency is assessed by the amount of sputum that comes out and observes the presence of additional breath sounds. Results: There was a decrease in the amount of sputum in case I on the first day that was accommodated in a container was 3 cc, then on the second day was 2 cc and on the third day was 2 cc and the ronchi lung sound was reduced. While the second case on the first day obtained 2 cc, the second day was 2 cc and the third day 1cc and normal lung sounds (vesicular).

Conclusion: The combination of chest physiotherapy and steem inhaler aromatheraphy has proven to be effective in maintaining airway patency. Keywords: Chest physiotherapy, steem inhaler with aroma therapy, secretion production Latar Belakang: Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) didefinisikan sebagai penyakit atau gangguan paru yang memberikan kelainan ventilasi berupa obstruksi saluran pernapasan yang bersifat progresif dan tidak sepenuhnya reversible. Gejala yang sering muncul pada pasien PPOK adalah sesak nafas dan produksi sputum berlebih.

Studi kasus yang dilakukan pada pasien penyakit paru obstruktif di RSUP dr Kariadi Semarang menunjukkan pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis mengalami produksi sputum berlebih yang akhirnya mengganggu kepatenan jalan nafas. Fisioterapi dada dan steem inhaler adalah terapi non farmakologi yang bertujuan untuk mengurangi dahak dan sesak pada pasien dengan sekret berlebih. Metode: Metode studi kasus terhadap 2 responden dengan pendekatan asuhan keperawatan pasien penyakit paru obstruktif kronis yang diberikan intervensi fisioterapi dada dan steem inhaler aroma therapy selama tiga hari berturut-turut sebelum pasien makan.

Pengukuran kepatenan jalan nafas dinilai dari jumlah sputum yang keluar serta mengobservasi adanya suara nafas tambahan. Hasil: Adanya penurunan jumlah sputum pada kasus I hari pertama yang ditampung dalam penampung adalah 3 cc, kemudian dihari kedua adalah 2 cc dan dihari ke 3 adalah 2 cc serta suara paru ronchi berkurang. Sementara kasus ke II dihari pertama didapatkan 2 cc, hari kedua adalah 2 cc dan hari ketiga 1cc serta suara paru normal (vesicular).

Simpulan: Kombinasi fisioterapi dada dan steem inhaler aromatheraphy terbukti efektif dalam mempertahankan kepatenan jalan nafas. Kata Kunci: Fisioterapi dada, steem inhaler with aroma therapy, produksi sekret PENDAHULUAN Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) didefinisikan sebagai penyakit atau gangguan paru yang memberikan kelainan ventilasi berupa obstruksi saluran pernapasan yang bersifat progresif dan tidak sepenuhnya reversible. Obstruksi ini berkaitan dengan respon inflamasi abnormal paru terhadap partikel asing atau gas yang berbahaya.

Pada PPOK, bronkitis kronik dan emfisema sering ditemukan bersama, meskipun keduanya memiliki proses yang berbeda. Akan tetapi menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tahun 2010, bronkitis kronik dan emfisema tidak dimasukkan definisi PPOK, karena bronkitis kronik merupakan diagnosis klinis, sedangkan emfisema merupakan diagnosis patologi (Andani dan Lhutvia 2016; PPDI 2010). Gejala yang sering muncul pada pasien PPOK adalah sesak nafas dan produksi sputum berlebih.

Hal tersebut akan berdampak terhadap difusi distribusi oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh (GOLD 2015). Adanya sesak nafas dan produksi sputum berlebih harus diatasi karena kepatenan jalan nafas adalah hal utama agar sirkulasi oksigen terdistribusi dengan optimal. Fenomena yang terjadi di rumah sakit, pasien selalu diberi obat untuk mengatasi sesak napas dan mengencerkan dahak, tanpa mempertimbangkan terapi non farmakologi. Medikamentosa (obat) yang diberikan banyak memberikan efek samping, misalnya menimbulkan takikardi, tidak bisa tidur ataupun respon alergi.

Fisioterapi dada dan batuk efektif adalah tindakan mandiri perawat yang bisa dilakukan mudah dan murah yang dapat dilakukan di rumah sakit. Kedua tindakan tersebut tidak memiliki efek samping (Nur 2015). Penelitian Ariasti (2014) menunjukan adanya pengaruh pemberian fisioterapi dada terhadap kebersihan jalan napas pada pasien ISPA di Desa Pucung Eromoko Wonogiri. Penelitian lain juga menunjukan hasil bahwa pemberian fisiterapi dada dapat meningkatkan pengeluaran sputum dan bersihan paru.

Didapatkan bahwa pada kelompok intervensi pagi hari 63,6% responden mengalami keluaran sputum sebanyak 4 – 6 ml sedangkan 36,4% nya mengalami keluaran sputum sebanyak 2 – 3 ml. Sedangkan pada kelompok intervensi siang hari keluaran sputum dari 11 responden seluruhnya sebanyak 1 < 2 ml (D Ariasti, Aminingsih, dan Endrawati 2014; Nur 2015). Beberapa penelitian juga menyatakan penggunaan steem inhaler berdampak pada dilatasi bronkus dan mengencerkan dahak.

Putri (2017) menyatakan dalam studi kasus keperawatan bahwa pemberian inhalasi uap mengencerkan dahak dan membantu dahak keluar dengan mudah (Putri 2016). Penggunaan inhalasi akan lebih nyaman digunakan jika digunakan aromaterapi dari minyak astiri, dimana minyak astiri juga memiliki banyak kelebihan. Penelitian menyatakan bahwa upaya untuk menghambat penyebaran kuman tuberculosis (TB) dengan metode terapi inhalasi pada pasien menggunakan ekstrak minyak eucalyptus citriodora (Soyingbe et al. 2017). Hasil yang diperoleh adalah Eucalyptus citriodora terbukti menghambat penyebaran TB Paru lebih dari 90%.

Menurut Dornish dkk dalam Zulnely, Gusmailina dan Kusmiati (2015) menyebutkan bahwa minyak atsiri eucalyptus dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal diantaranya untuk mengurangi sesak nafas karena flu atau asma dengan cara mengoleskan pada dada, mengobati sinus dengan cara menghirup uap air hangat yang telah diteteskan minyak eucalyptus serta melegakan hidung tersumbat dengan cara menghirup aroma minyak eucalyptus (Zulnely, Gusmalina, dan Kusmiati 2015). RSUP dr. Kariadi Semarang rajawali 3B merupakan bangsal infeksi dimana pasien-pasien infeksi pernafasan banyak ditemui disana.

Sebagian besar pasien infeksi saluran pernafasaan ataupun penyakit paru obstruktif kronis mengalami hipersekresi secret, dimana reflek batuk meningkat dan terjadi sesak nafas. Efek dari batuk sendiri adalah mengeluarkan droplet dimana kemungkinan menjadi sumber infeksi. Penggunaan terapi steem inhalation aroma therapic yang dikombinasi dengan fisioterapi dada diharapkan meningkatkan pengeluaran sputum dan mengatasi masalah kebersihan jalan nafas. METODE Karya ilmiah ini adalah studi kasus dengan asuhan keperawatan yang menerapkan fisioterapi dada dan steem inhaler aromatherapy.

Studi kasus ini dilakukan terhadap 2 pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis dengan kriteria inkusi; (1) Terjadi masalah kebersihan jalan nafas (terdapat sekret); (2) Terjadi kenaikan respiratory rate; (3) Teradapat bunyi paru tambahan; (4) bersedia menjadi responden. Penulis melakukan terapi inhalasi dengan memanaskan air sampai keluar uap, kemudian ditaruh di sebuah baskom dan dicampur dengan minyak kayu putih sampai mengeluarkan bau segar.

Setelah itu pasien menghirup uap yang sudah dibuat tersebut selama 15 menit kemudian pasien dilakukan fisioterapi dada selama 10 menit dan diajarkan batuk efektif. Kemajuan kondisi pasien diukur menggunakan jumlah sekret yang dikeluarkan sekali shift saat itu juga selama tiga hari berturut-turut dan dinilai dengan auskultasi suara paru. Terapi dilakukan 1 jam sebelum diberikan terapi bronkodilator. Indikator keberhasilan dari terapi adalah berkurangnya jumlah sekret yang dikeluarkan serta tidak ada bunyi nafas tambahan yang disertai penurunan respiratory rate dan kenaikan SpO2. HASIL Kasus I adalah Tn. D 59 tahun dengan PPOK. Klien mengatakan sesak selama 3 hari dan tidak bisa melakukan aktifitas.

Klien mengatakan sesak berkurang jika berbaring di tempat tidur menggunakan 3 bantal. Klien juga mengeluh tangannya sering bergetar. Klien memiliki riwayat penyakit DM tipe II. Hasil pemeriksaan menunjukan bunyi nafas ronchi basal halus, hantaran positif, bunyi jantung S1 dan S2 dan retraksi dada positif . Vital sign menunjukan HR : 80 bpm; RR : 25 rpm; S : 36,80C; TD : 110/70 mmHg; SpO2 98% on O2 nasal canul 3 L/min.

Hasil rontgen menunjukan vaskularisasi meningkat, corak meningkat, gambaran PPOK. Pasien menjadi cemas dengan keadaannya dan mudah panik. Kasus II Tn. R 56 tahun mengatakan sesak sudah 5 hari kemudian dibawa ke IGD RSDK tidak mempunyai penyakit penyerta seperti diabetes, asthma, ataupun penyakit keturunan yang lainnya. Pasien mengatakan tidak bisa tidur karena sesak terus menerus. Hasil pemeriksaan didapatkan bunyi nafas ronchi basal halus, hantaran positif, bunyi jantung S1 dan S2, retraksi negatif.

Vital sign menunjukkan HR : 78 bpm; RR : 24 rpm; S : 36,70C; TD : 120/80 mmHg; SpO2 99% dan mendapatkan O2 nasal canul 3lpm. Pasien juga mengatakan nyeri dengan P: Nyeri datang saat sesak; Q: Seperti tertimpa benda berat; R: Nyeri dada; S: Skala 4; T: Nyeri terus menerus selama sesak. Hasil laboratorium darah rutin kedua pasien adalah normal, hanya saja gula darah sewaktu pasien kasus I cenderung tinggi yaitu 190mg/dl. Hal tersebut dikarenakan penyakit penyerta yang dialami kasus I.

Pemilihan diagnosa prioritas adalah ketidakbersihan jalan nafas berhubungan dengan produksi mucus berlebih pada kasus I,II; nyeri kronis berhubungan dengan agen cedera biologis pada kasus II, ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan pada kasus I dan gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakpuasan tidur pada kasus II. Intervensi untuk mengatasi ketidakbersihan jalan nafas berupa fisioterapi dada dan steem inhaler with aromatheraphy. Intervensi tersebut diberikan pada pasien kasus I dan kasus II dilakukan 1 jam sebelum diberikan bronkodilator.

Pertama adalah pemberian steem inhaler yaitu uap air panas yang diberikan aroma terapi minyak kayu putih selama 15 menit kemudian dilanjutkan dengan fisioterapi dada selama 10 menit. Kedua pasien memiliki kekuatan batuk efektif yang baik, dapat melakukannya sendiri dan dianjurkan untuk menampung dahak ditempat yang disediakan. Jumlah dahak akan dikumulatifkan per hari. Intervensi dilakukan sehari satu kali, selama tiga hari berturut-turut. Intervensi diberikan 25 menit/24jam 1 jam sebelum pemberian obat bronkodilator pada pasien.

Evaluasi terhadap kepatenan jalan nafas dilakukan setiap hari dengan mengukur jumlah sputum serta auskultasi paru pasien. Pengeluaran sputum pasien I dan II selama tiga hari berturut-turut digambarkan pada grafik 1 dibawah ini. Grafik 1 Produksi Sputum Pasien / Grafik 1 menunjukan penurunan jumlah sputum. Pada kasus I hari pertama jumlah sputum yang ditampung dalam penampung adalah 3 cc, kemudian dihari kedua adalah 2 cc dan dihari ke 3 adalah 2 cc.

Sementara kasus ke II dihari pertama didapatkan 2 cc, hari kedua adalah 2 cc dan hari ketiga 1 cc. Pengeluaran sputum rata-rata dalam tiga hari adalah 1cc. Pemberian fisioterapi dada dan steem inhaler with aromatheraphy dapat mengatasi masalah bersihan jalan nafas pada kedua pasien. Evaluasi kepatenan jalan nafas juga dilihat dari hemodinamik dan suara nafas bersih (vesicular)/terjadinya pengurangan bunyi suara nafas tambahan. Evaluasi suara nafas dan hemodinamik selama tiga hari berturut-turut pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1 Bunyi Suara Nafas dan Hemodinamik Kasus I dan II dengan PPOK yang Diberikan Terapi Fisioterapi Dada dan Steem Inhaler di RSUP dr. Kariadi Semarang Kasus Hari ke 1 Hari ke 2 Hari ke 3  Kasus I Ronchi Basal : Nyaring HR : 80 bpm RR : 25 rpm SpO2 : 98% O2 : 3 Liter/Menit Ronchi Basal : berkurang HR : 83 bpm RR : 23 rpm SpO2 : 98% O2 : 2 Liter/Menit Nafas Vesicular HR : 78 bpm RR : 22 rpm SpO2 : 98 % O2 : 1 Liter/Menit  Kasus II Ronchi Basal : Nyaring HR : 78 bpm RR : 24 rpm SpO2 : 99% O2 : 3 Liter/Menit Ronchi Basal : berkurang HR : 72 bpm RR : 24 rpm SpO2 : 96 % O2 : 2 Liter/Menit Nafas Vesicular HR : 80 bpm RR : 21 rpm SpO2 : 97 % O2 : 1 Liter/Menit   Tabel 1 menunjukan bahwa selama tiga hari terdapat perbaikan yang dinilai dari bunyi suara nafas vesicular di hari ke 3 pada ke 2 kasus. Hemodinamik yang stabil meski sudah dilakukan tapering oksigen menjadi 1 liter/menit.

Saturasi oksigen juga diatas 94% selama 3 hari perawatan. Pemberian fisioterapi dada dan steem inhaler with aromatheraphy dapat mengatasi masalah bersihan jalan nafas pada kedua pasien. PEMBAHASAN Karakteristik kedua pasien pada studi kasus ini secara umum adalah sama yaitu laki-laki, lansia akhir. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa PPOK lebih meningkat pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Laki-laki lebih tinggi insidensinya mengalami PPOK karena kebiasaan merokok. Selain itu dilihat dari kelompok usia pada kedua pasien adalah lansia akhir. Struktur dan fungsi paru selama proses penuaan menjadi terganggu dan menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap PPOK. Penuaan merupakan penurunan keadaaan homeostasis secara progresif setelah fase reproduktif kehidupan tercapai sehingga menimbulkan peningkatan risiko penyakit atau kematian.

Kegagalan organ dalam memperbaiki kerusakan DNA yang disebabkan stres soksidatif dan pemendekan telomer akibat pembelahan sel yang berulang menyebabkan penuaan. Senescence selular merupakan berhentinya pembelahan sel ireversibel yang disebabkan oleh pemendekan telomer (senescence replikatif) atau sinyal yang tidak tergantung telomer (senescence prematur). Kerusakan sel yang disebabkan penuaan dan merokok mencetuskan apoptosis dan meningkatkan penggantian siklus sel sebagai mekanisme kompensasi.

Penuaan dan merokok juga menyebabkan senescence selular dan berhentinya proliferasi sel. Ketidakimbangan apoptosis-proliferasi (Kemenkes RI 2018). Dilihat dari riwayat penyakit yang dapat mempengaruhi kondisi pasien, di temukan bahwa pasien kasus I memiliki riwayat DM tipe 2 yang berarti ada masalah pada endokrin yaitu meningkatnya kadar gula dalam darah yang lambat laun akan menyebabkan darah menjadi kental. Karena konsentrasi darah lebih tinggi maka cairan dari ekstravaskular akan diserap menuju vaskular.

Keadaan tersebut tentu sangat tidak baik untuk pembuluh darah perifer ataupun pembuluh darah vital baik dijantung ataupun di paru-paru dimana akan menambah gangguan perfusi dimana pasien sudah mengalami ketidakbersihan jalan nafas karena secret karena penyakit PPOKnya. Kasus ke II pasien menyangkal adanya penyakit penyerta ataupun penyakit keturunan seperti diabetes, hipertensi ataupun asthsma. Sebagai langkah awal Intervensi supaya pasien merasa nyaman dengan perawat adalah membangun hubungan saling percaya kepada pasien.

Membina hubungan saling percaya adalah suatu bentuk komunikasi terapeutik yang nanti akan berdampak pada kepercayaan pasien terhadap perawat sehingga akan memudahkan dalam proses perawatan (Ningrum 2019). Setelah pasien sudah nyaman dilanjutkan pada tahap menghidup aroma terapi selama 15 menit kemudian dilakukan fisioterapi dada. Hasil studi kasus ini menunjukan adanya pengaruh steem inhaler dan fisioterapi dada dalam kebersihan/kepatenan jalan nafas. Pada kasus I hari pertama jumlah sputum yang ditampung dalam penampung adalah 3 cc, kemudian dihari kedua adalah 2 cc dan dihari ke 3 adalah 2 cc.

Sementara kasus ke II dihari pertama didapatkan 2 cc, hari kedua adalah 2 cc dan hari ketiga 1 cc yang diikuti dengan penurunan respiratory rate, kenaikan SpO2 dan suara nafas ronchi berkurang. Pengeluaran sputum rata-rata dalam tiga hari adalah 1cc. Eva Fitriananda (2017), juga menyimpulkan bahwa Chest phisiotherapy (fisioterapi dada) yang merupakan terapi kombinasi yang digunakan untuk memobilisasi sekresi yang meliputi serangkaian teknik postural drainase, perkusi, dan vibrasi yang bertujuan membersihkan jalan nafas dari mukus untuk melancarkan jalan nafas sehingga dapat mengurangi gejala bronkitis salah satunya adalah batuk berdahak (Fitrinanda 2017).

Dahak atau sputum merupakan materi yang dikeluarkan dari saluran nafas bawah oleh batuk. Batuk dengan dahak menunjukkan adanya eksudat bebas dalam saluran pernapasan. Keadaan abnormal produksi mukus yang berlebihan (karena gangguan fisik, kimiawi, atau infeksi yang terjadi pada membran mukosa), menyebabkan proses pembersihan tidak berjalan secara adekuat, sehingga mukus ini banyak tertimbun dan terjadi bersihan jalan napas tidak efektif (Nugroho dan Kristiani 2011; Nur 2015). Keluar atau tidaknya sputum pada pasien asma bronkial setelah diberi intervensi saat pagi dan siang hari dapat dipengaruhi oleh kekuatan responden saat membatukkan, karena terdorongnya sputum keluar harus ada ekspirasi yang adekuat, kemudian kekuatan batuk yang kuat dari dinding otot dada bukan dari belakang mulut atau tenggorokan, karena sputum sangat kental dan lengket (Andani dan Lhutvia 2016). Bunyi ronchi disebabkan karena aliran udara melalui saluran nafas yang berisi sputum atau eksudat.

Sputum dijalan nafas dapat dimobilisasi keluar melalui fisioterapi dada dan batuk efektif (D Ariasti, Aminingsih, dan Endrawati 2014; Sitorus, Lubis, dan Kristiani 2018). Keluarnya sputum membuat saluran nafas bebas dari sputum sehingga tidak terdengar lagi ronchi. Hal ini ditunjang dengan teori yang menyebutkan bahwa batuk efektif akan membantu proses pengeluaran sekret yang menumpuk pada jalan nafas sehingga tidak ada lagi perlengketan pada jalan nafas sehingga jalan nafas paten dan sesak nafas berkurang (Tahir 2019).

Hasil tersebut sejalan dengan penelitian (Sitorus, Lubis, dan Kristiani 2018) yang menyebutkan bahwa pasien yang mendapatkan fisioterapi dada dapat mengeluarkan secret dengan efektif, dengan hasil level dari kemampuan untuk mengeluarkan secret, mayoritas responden berada pada level severe deviation from normal range (43%). Khasanah (2015) dalam penelitiannya juga menyebutkan pengeluaran sputum pada kelompok intervensi pagi hari keluaran sputum 4 -< 6 ml diperoleh dari 7 responden (63,6%), sedangkan paling sedikit 2 <- 3 ml diperoleh dari 4 responden (36,4%).

Kemudian pada kelompok intervensi siang hari keluaran sputum dari 11 responden seluruhnya sebanyak 1 -< 2 ml (Nur 2015). Penelitian yang telah dilakukan oleh Ariasti (2014) yang berjudul “Pengaruh Pemberian Fisioterapi Dada Terhadap Kebersihan Jalan Nafas Pada Pasien ISPA Di Desa Pucung Eromoko Wonogiri” juga menunjukkan 26 responden yang sebelumnya dilakukan fisioterapi dada sebanyak 3 (11,53%) menunjukkan kebersihan jalan nafas bersih dan sebanyak 23 (88,47%) menunjukkan kebersihan jalan nafas tidak bersih kemudian dilakukan fisioterapi dada dan sesudah dilakukan fisioterapi dada, responden untuk katagori kebersihan jalan nafas bersih sebanyak 18 (69,23%), sedangkan untuk katagori kebersihan jalan nafas tidak bersih berjumlah 8 (30,70%) dari hasil tersebut disimpulkan bahwa fisioterapi dada sangat berpengaruh terhadap kebersihan jalan nafas pada pasien ISPA di Desa Pucung Eromoko Wonigiri (D Ariasti, Aminingsih, dan Endrawati 2014).

Pemanfaatan aromaterapi minyak kayu putih juga memberikan rasa nyaman dan segar sehingga dapat menjadi pusat perhatian yang mana otak di kelenjar pituari akan mengeluarkan endorphine ataupun serotonin sehingga tubuh menjadi rileks, tidak cemas dan terasa mengantuk. Studi kasus yang dilakukan kepada dua responden tersebut membuahkan hasil dimana kasus I dan ke II berkurang dalam produksi sekret, sesak berkurang, dan pasien sudah tidak cemas, nyeri serta dapat tidur dengan nyenyak.

Menurut Dornish dkk dalam Zulnely, Gusmailina dan Kusmiati (2015) menyebutkan bahwa minyak atsiri eucalyptus mengandung 1,8-sineol, a-terpineol, quinat, luteolin, dan proantosianidin sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal diantaranya untuk mengurangi sesak nafas karena flu atau asma dengan cara mengoleskan pada dada, mengobati sinus dengan cara menghirup uap air hangat yang telah diteteskan minyak eucalyptus serta melegakan hidung tersumbat dengan cara menghirup aroma minyak eucalyptus (Zulnely, Gusmalina, dan Kusmiati 2015).

Penggunaan minyak atsiri, salah satunya eucalyptus dengan metode inhalasi juga dilakukan dalam sebuah uji klinik dengan metode randomizeddouble-blind, placebo-controlled pada obat semprot (spray) menggunakan lima minyak atsiri (Eucalyptus citriodora, Eucalyptus globulus, Mentha piperita, Origanum syriacum, and Rosmarinus officinalis) dilakukan pada pasien dengan masalah infeksi saluran pernafasan atas di enam klinik di Israel. Aromatic spray atau placebo digunakan sebanyak lima kali sehari selama tiga hari dengan dosis empat semprotan setiap kalinya yang diarahkan pada bagian belakang tenggorokan. Evaluasi terhadap gejala menunjukkan bahwa aromaticspray lebih efektif mengurangi gejala dibandingkan dengan placebo (Zulfa 2017).

SIMPULAN STUDI Kesimpulan dari studi kasus tersebut adalah terapi inhalasi uap dengan aroma terapi yang dikombinasikan dengan fisioterapi dada terbukti mengurangi sekret dan melonggarkan jalan nafas. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan karya ilmiah akhir ners ini dan penulis mengakui masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya ilmiah tersebut. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapan agar penulisan lebih baik lagi.

REFERENSI Andani, dan Resti Lhutvia. 2016. “Penatalaksanaan Penyakit Paru Obstruktif Kronis pada Lansia Pekerja Konstruksi.” Jurnal Medula UNILA 4(4). D Ariasti, Aminingsih, dan S Endrawati. 2014. “Pengaruh Pemberian Fisioterapi Dada Terhadap Pasien ISPA Di Desa Pucung Eromoko Wonogiri.” Jurnal Keperawatan 2(2). Fitrinanda, Eva. 2017. “Pengaruh Chest Phisiotherapy Terhadap Penurunan Frekuensi Batuk Pada Balita Dengan Bronkitis Akut Di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.”

Jurnal Keperawatan 7(3). GOLD. 2015. “Global Initiative for Chronic Obstructive Lung.” A Guide for Health Care Professionals. Kemenkes RI. 2018. “Profil Kesehatan Indonesia 2017. Data dan Informasi. Kementrian Keseahtan RI; 2018.” Jurnal Ilmu Kesehatan. Ningrum, Hidayah. 2019. “Penerapan Fisioterapi Dadaterhadap Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas pada Pasien Bronkitis Usia Pra Sekolah. Media Publikasi Penelitian.” Nugroho, Y A, dan E E Kristiani. 2011.

“Batuk Efektif Dalam Pengeluaran Dahak Pada Pasien Dengan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas di Instalasi 20 Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Baptis Kediri.” Jurnal Stikes RS Baptis Kediri 4(2). Nur, Wahyu Khasanah. 2015. “Efektifitas Batuk Efektif dan Fisioterapi Dada Pagi dan Siang Hari terhadap Pengeluaran Sputum Pasien Asma Bronkial Di RS Paru dr.Ario Wirawan Salatiga.” Jurnal Keperawatan. PPDI. 2010. “Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.”

Putri, A P. 2016. “Pengaruh Chest Therapy Terhadap Penurunan Respiratory Rate Pada Balita Dengan Bronkitis Di RS Trihars Surakarta.” Jurnal Keperawatan 2(1). Sitorus, Lubis, dan Kristiani. 2018. “Penerapan batuk efektif dan fisioterapi dada pada pasien TB Paru yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas di RSUD Koja Jakarta Utara.” JAKHKJ 4(2). Soyingbe, Oluwagbemiga S. et al. 2017.

“Antiasthma activity of Eucalyptus grandis essential oil and its main constituent: Vasorelaxant effect on aortic smooth muscle isolated from nomotensive rats.” Journal of Experimental and Applied Animal Sciences. Tahir, Rusna. 2019. “Fisioterapi Dada Dan Batuk Efektif Sebagai Penatalaksanaan Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Pada Pasien TB Paru Di RSUD Kota Kendari.” Health Information 11(1). Zulfa, Auliyati. 2017. “emanfaatan Minyak Kayu Putih (Melaleuca leucadendra Linn) sebagai Alternatif Pencegahan ISPA: Studi Etnografi di Pulau Buru.

Jurnal Kefarmasian Indonesia.” Jurnal Ilmu Kesehatan 7(2). Zulnely, Z, Gusmalina, dan E Kusmiati. 2015. “Prospek Eucaliptus citriodora sebagai minyak atsiri potensial. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia.” Universitas Sebelas Maret 1: 120–26.