Plagiarism Checker X Originality Report

Plagiarism Quantity: 11% Duplicate

Date Monday, December 28, 2020
Words 262 Plagiarized Words / Total 2420 Words
Sources More than 19 Sources Identified.
Remarks Low Plagiarism Detected - Your Document needs Optional Improvement.

Metode Mendongeng Menurunkan Nyeri Pada Anak Penderita Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) Heru Kurniawan�, Pawestri�. � Mahasiswa Program Studi Profesi Ners Fikkes UNIMUS � Dosen Keperawatan Fikkes UNIMUS Email : [email protected] ABSTRAK Nyeri beraktivitas dan mengganggu kenyamanan anak saat istirahat, penelitian membuktikan bahwa metode mendongeng dapat mengurangi atau menurunkan nyeri tulang pada anak dengan Acute Limpoblastic Leukimia (ALL). Mendongeng adalah sebuah metode yang dapat mengalihkan (distraksi) sehingga mengeluarkan hormon endorphin (proses penurunan nyeri) sehingga penurunan nyeri membuat kualitas hidup anak menjadi meningkat. Tujuan dari studi kasus ini untuk mengetahui efektivitas mendongeng terhadap penurunan nyeri pada anak dengan Acute limpoblastic Leukimia(ALL) diruang anak dasar RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Desain studi kasus ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek studi kasus ini berjumlah 2 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi, didapat secara purposive sampling. Pengambilan data menggunakan instrumen numerik rating scale dan naskah dongeng. Pengukuran nyeri sebelum dan setelah dilakukan terapi mendongeng selama 20 menit dalam 3 kali pertemuan. Responden telah mendndatangani lembar persetujuan. Hasil studi kasus menunjukan penurunan skala nyeri setelah dilakukan terapi mendongeng. Responden 2 terjadi penurunan dari skala 6 menjadi 0. Kesimpulan metode mendongeng efektif terhadap penurunan nyeri pada anak penderita Acute Limpoblastic Leukimia (ALL).

Kata kunci : Penurunan nyeri, Metode mendongeng, Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) PENDAHULUAN Leukemia lymphoblastic akut (ALL atau juga disebut leukemia limfositik akut) adalah kanker darah dan sum-sum tulang. Kanker jenis ini biasanya semakin memburuk dengan cepat jika tidak diobati. ALL adalah jenis kanker yang paling umum pada anak-anak. Anak yang sehat memiliki sum-sum tulang yang memproduksi sel-sel induk darah (sel yang belum matang) yang menjadi sel-sel darah dewasa dari waktu ke waktu. Sebuah sel induk dapat menjadi sel induk myeloid atau sel induk limfoid (National Cancer Institute, 2015).

Insiden kanker meningkat dari 12,7 juta kasus tahun 2008 jadi 14,1 juta kasus tahun 2012 dan kematian meningkat dari 7,6 juta orang tahun 2008 menjadi 8,2 juta pada tahun 2012. Leukemia merupakan jenis kanker yang paling sering pada anak dengan insiden 31,5% dari semua kanker pada anak di bawah usia 15 tahun di Negara industry dan sebanyak 15,7% di Negara berkembang, tipe leukemia yang paling sering pada anak-anak adalah Leukemia Limfositik Akut (LLA), yang terjadi sekitar 80% dari kasus leukemia dan diikuti hamper 20% dari Leukimia Mieloid Akut (LMA) (WHO, 2013). Indonesia leukemia merupakan kanker tertingi pada anak sebesar 2,8 per 100.000 anak. kasus kanker pada anak-anak mencapai 4,7% dari kanker pada semua umur.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (2018,) di Kota Semarang, insiden kanker pada anak usia kurang dari 1 tahun ( 0,3 %), usia 1-4 tahun (0,1%), usia 5-14 tahun (0,1%) dan usia 4-24 tahun (0.6%). Tingginya angka prevalensi ALL diikuti dengan dampak negatif bagi anak. Dampak negatif akibat ALL pada anak, nyeri merupakan masalah paling utama yang sering dijumpai. Gejala nyeri ALL adalah nyeri pada tulang dan perut (Hoffbrand, 2015). Jika pada penderita merasakan nyeri akan mempengaruhi emosianal, kognitif, dan fisik, ketidakmampuan serta memahami rasa (misalnya marah, sedih, takut, khawatir) akan berdampak pada kerja otak dalam memproses rasa sakit dan proses ini dapat meningkatkan rasa sakit yang dialami oleh anak sehingga menggangu kualitas hidup anak (Kozlowska dan khan, 2011). Nyeri menjadi masalah yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas hidup penderita ALL.

Penatalaksaan dalam mengatasi masalah nyeri pada penderita ALL mencakup pendekatan farmakologis dengan pemberian obat anti nyeri (analgesik) dan non farmakologi salah satunya terapi mendongeng. Terapi mendongeng merupakan komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pengetahuan kepada anak-anak. Mendongeng adalah sebuah metode yang dapat mengalihkan (distraksi) yaitu pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus lain. Stimulus dari luar dapat merangsang sekresi endorfin sehingga stimulus nyeri yang dirasakan menjadi berkurang sehingga membuat kualitas hidup anak menjadi meningkat (Delimasa, 2012). Rumusan masalah dalam karya ilmiah akhir ners ini adalah �Adakah Pengaruh Metode Mendongeng Terhadap Penurunan Nyeri Pada Anak Dengan Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) Di Ruang Anak Dasar RSUP Dr. Kariadi Semarang�.

studi kasus ini bertujuan mengetahui pengaruh metode mendongeng terhadap penurunan nyeri pada anak dengan acute limpoblastic leukimia (ALL) di ruang anak dasar RSUP Dr. Kariadi Semarang. METODE Studi kasus ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan. Subjek dalam studi kasus ini adalah pasien Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) yang menkalani rawat inap di ruang anak dasar RSUP Dr. Kariadi Semarang pada bulan februari 2020. Subjek studi kasus berjumlah 2 responden. Pengambilan subjek studi kasus mengunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi pada studi kasus ini anak dengan Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) yang mengalami nyeri, usia sekolah 6-12 tahun dan orang tua yang setuju untuk dilakukan penerapan sedangkan, kriteria eksklusi nyeri berat, retardasi mental dan komordibitas penyakit fisik berat. Instrumens studi kasus ini adalah naskah dongeng (hari pertama rapunzel, hari kedua cinderela, hari ketiga beuty and the beast), alat ukur nyeri (numerik rating scale).

Proses pengambilan data dilakukan sebelum dan sesudah terapi mendongeng. Prosedur tindakan dilakukan dalam tiga kali pertemuan setiap tindakan dilakukan selama durasi 20 menit, tindakan diawali dengan memposisikan responden semi fowler, mengatur lingkungan yang nyaman, meminta keluarga mendampingi pasien dalam proses terapi, selanjutnya mengukur tingkat skala nyeri sebelum tindakan, peneliti melakukan intervensi terapi mendongeng, kemudian melakukan evaluasi setelah terarpi mendongeng. Sebelum dilakukan intervensi responden telah mendapat pemahaman terkait tujuan dari terapi mendongeng. Responden telah menyetujui dan menandatangani inform consent.

Kemudian data studi kasus dikelola dan dianalisis untuk mengetahui penurunan tingkat skala nyeri pada responden setelah dilakukan terapi mendongeng selanjutnya disajikan dalam bentuk grafik. HASIL STUDI Pada hasil pengkajian data tinjauan kasus responden 1 jenis kelamin perempuan, usia 8 tahun dengan diagnosa medis Acute Limpoblastic Leukimia (ALL). Orang tua responden 1 mengatakan keluhan utama pasien nyeri hampir diseluruh tubuh P: nyeri saat digerakan Q: seperti ditertusuk-tusuk R: nyeri dirasakan dibagian hampir diseluruh tubuh S: 6 T: hilang timbul, sulit makan dan minum, anak hanya minum 1 botol kecil, anak tampak meringis dan lemas. pemeriksaan didapatkan hasil nadi : 94 x/menit, RR : 22 x/menit, suhu : 37,5�C, BB : 21kg, kondisi umum tampak lemas.

Tinjauan kasus responden 2 jenis kelamin Perempuan usia 7 tahun anak tampak meringis, dengan diagnosa medis Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) anak tampak meringis. Orang tua responden 2 mengatakan keluhan utama mengatakan ngeluh nyeri dibagian punggung kanan P: nyeri saat digerakana Q: seperti di timpa benda berat R: nyeri dirasakan dibagian pungung kanan S: 6 T: hilang timbul. pemeriksaan didapatkan hasil nadi : 80 x/menit, RR : 24 x/menit, suhu : 37,3�C, BB : 33kg, kondisi umum tampak lemas. Diagnosa keperawatan pada responden 1 dan responden 2 yaitu nyeri kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor (D.0078), ini ditegakkan dengan dari analisa data yang didapatkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dipengaruhi oleh leukositosis yang berlebihan dapat ditandai dengan gejala nyeri.

Apabila masalah nyeri kronis ini tidak segera diatasi maka akan berdampak pada pada kerja otak dalam memproses rasa sakit dan proses ini dapat meningkatkan rasa sakit yang dirasakan oleh anak dapat mempengaruhi emosional, fisik, kognitif dan sosial pada anak. Intervensi yang diberikan pada responden 1 dan responden 2 adalah monitor karakteristik nyeri yang meliputi berikan informasi kepada klien dan keluarga mengenai penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, cara mengontrol nyeri dengan relaksasi nafas dalam, ajarkan teknik managemen nyeri non farmakologi (mendongeng(pengalihan rasa nyeri)), Evaluasi kemampuan klien mengontrol nyeri, kolaborasi pemberian analgetik.

Responden 1 implementasi hari pertama memonitor nyeri pre, memberikan terapi mendongeng, monitor nyeri post. Pertemuan kedua monitor nyeri pre, memberikan terapi mendongeng, monitor nyeri post. Pada pertemuan ketiga monitor nyeri pre, memberikan terapi mendongeng, monitor nyeri post. Pada responden 2 implementasi dihari pertama monitor nyeri pre, memberikan terapi mendongeng, monitor nyeri post. Dihari kedua melakukan monitor nyeri pre, memberikan terapi mendongeng, monitor nyeri post. Hari ketiga memonitor nyeri pre, memberikan terapi mendongeng, monitor nyeri post. Penurunan tingkat skala nyeri kedua responden sebelum dan sesudah dilakukan terapi mendongeng dapat dilihat pada grafik 1 dibawah ini: Grafik 1 Penurunan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penerapan Terapi Mendongeng. / Berdasarkan grafik 1.

Didapatkan data hasil studi kasus menunjukan setelah diberikan intervensi keperawatan Metode Mendongeng pada Responden 1 dan Responden 2 mengalami penurunan skala nyeri. Pada responden 1 dihari pertama setelah diberikan terapi mendongeng, skala nyeri mengalami penurunan sebanyak 3, pertemuan kedua setelah dilakukan intervensi, skala nyeri mengalami penurunan sebanyak 1, pertemuan ketiga setelah di lakukan intervensi, mengalami penurunan skala nyeri sebanyak 2. Kemudian untuk responden 2 pada hari pertama setelah dilakukan intervensi, mengalami penurunan skala nyeri sebanyak 2, dihari kedua setelah dilakukan intervensi, mengalami penurunan skala nyeri sebanyak 2, untuk hari ketiga setelah dilakukan intervensi, mengalami penurunan skala nyeri 2. PEMBAHASAN Kedua responden pada studi kasus masuk kategori anak- anak. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan (Asthi. P , 2019) menyatakan kasus ALL banyak terjadi pada anak dengan rentang usia (6-15) tahun.

Leukemia lymphoblastic akut (ALL atau juga disebut leukemia limfositik akut) adalah kanker darah dan sum-sum tulang. Kanker jenis ini biasanya semakin memburuk dengan cepat jika tidak diobati. Dampak negatif akibat ALL pada anak, nyeri merupakan masalah paling utama yang sering dijumpai. Gejala nyeri ALL adalah nyeri pada tulang dan perut (Hoffbrand, 2015). Jika pada penderita merasakan nyeri akan mempengaruhi emosianal, kognitif, dan fisik, ketidakmampuan serta memahami rasa (misalnya marah, sedih, takut, khawatir) akan berdampak pada kerja otak dalam memproses rasa sakit dan proses ini dapat meningkatkan rasa sakit yang dialami oleh anak sehingga menggangu kualitas hidup anak (Kozlowska dan khan, 2011).

Hasil studi kasus ini menunjukan ada penurunan skala nyeri pada kedua responden dengan Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) yang mengalami gejala nyeri setelah diberikan terapi mendongeng selama 20 menit. Hasil studi ini sesuai dengan hasil studi lain yang menjelaskan bahwa pengaruh mendongeng pada kondisi nyeri pada penderita Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) (Asthi, P 2019). Hasil senada juga dijelaskan dalam studi lain yang menemukan pengaruh mendongeng terhadap skala nyeri pada anak dengan Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) (Samudin, 2019). Pada hari pertama, kedua, dan ketiga hasil obeservasi kedua responden setelah diberikan terapi mendongeng mengalami penurunan skala nyeri yang signifikan. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya.

Skala nyeri dari kedua responden terdapat perbedaan, dilihat dari hasil observasi setelah diberikan terapi mendongeng, responden 1 didapatkan hasil selisih dihari 1 = 3, hari ke 2 = 2, hari ke 3 = 2. Sedangkan pada responden 2 dari hasil observasi setelah diberikan terapi mendongeng didapatkan hasil selisih pada hari 1 = 2, hari ke 2 = 2, dihari ke 3 = 2. Hal ini sejalan dengan perbedaan yang dikemukakan oleh peniliti sebelumnya (Asthi, P 2019), bahwa penurunan intensitas nyeri pada anak penderita ALL dapat diperangaruhi dari proses lama penyakit dan proses lama perawatan dirumah sakit. Terapi mendongeng merupakan komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pengetahuan kepada anak-anak. Mendongeng adalah sebuah metode yang dapat mengalihkan (distraksi) yaitu pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus lain.

Stimulus dari luar dapat merangsang sekresi endorfin sehingga stimulus nyeri yang dirasakan menjadi berkurang sehingga membuat kualitas hidup anak menjadi meningkat (Delimasa, 2012). Hal ini juga senada dengan penelitian (Hayati and Wahyuni, 2018 ) menyatakan teknik pengalihan perhatian dengan metode mendongeng yang sesuai dengan tahap perkembangan anak akan memberikan pengaruh signifikan dalam proses penurunan nyeri fisiologis, stress, dan kecemasan dalam mengalihkan perhatian seseorang dari rangsangan nyeri. Menurut penelitian Bernandha (2016) efektivitas penerapan mendongeng dalam menurunkan anak yang mengalami nyeri yaitu sangat efektif dalam menurunkan kecemasan atau ketakutan anak dalam menghadapi masalah kesehatan selama menjalani perawatan.

Keberhasilan dalam pengobatan Acute Limpoblastic Leukimia (ALL) ini disebabkan karena kepatahuan klien dalam proses pengobatan. Kepatuhan ini dipengaruhi oleh klien sendiri, faktor terapi, dan faktor lingkungan. Faktor kualitas hubungan antara pasien, petugas pelayanan kesehatan dan dukungan keluarga yang baik yang dapat mempengaruhi kepatuhan klien sehingga klien dapat melewati proses pengobatan secara tuntas. Keterbatasan dalam studi kasus ini tidak memperhitungkan pola asuh keluarga terkait dengan mekanisme koping dalam merespon nyeri yang dirasakannya dan isi cerita mendongeng yang telah ditentukan oleh peneliti yang menyebabkan anak tidak bisa memilih cerita yang diinginkan. KESIMPULAN Metode mendongeng yang dilakukan selama 3 kali pertemuan menurunkan nyeri pada anak penderita Acute Limpoblastic Leukimia (ALL).

Pada studi kasus ini terjadi penurunan tingkat nyeri kedua responden yang menderita Acute Limpoblastic Leukimia (ALL), terbukti pada pelaksanaan setelah diberikan intervensi tidak mengalami gejala nyeri atau skala nyeri 0. Terapi mendongen pada penderita ALL anak dapat dipergunakan sebagai salah satu alternatif strategi pelayanan kepada pasien ALL anak yang dirawat inap diruang anak lantai dasar RSUP Dr. Kariadi Semarang. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kepada ALLAH SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners, hasil studi kasus dapat di jadikan sebagai bahan masukan dan memberikan informasi tentang penurunan batuk pada anak bronkopneumonia yang mengalami batuk dengan pemberian suplementasi madu murni.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Ilmiah Akhir Ners ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan dukungan dari pihak, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati yang tulus dan ikhlas perkenankan penulis menyampaikan terimakasih kepada Direktur RSUP Dr. Kariadi Semarang, responden beserta keluarga, Ns. Heryanto AN, M.Kep, Sp.Kom selaku Kepala Program Studi Ners, Ns. Pawestri., M.Kep., selaku pembimbing Karya Ilmiah Akhir Ners, beserta keluarga dan teman � teman semua. Akhir kata penulis berharap semoga Karya Ilmiah Akhir Ners ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca. REFERENSI American Cancer Society. (2015). Cancer inchildren.Diperolehdarihttp://www.cancer. org/cancer/cancerinchildren/detailedguide/cancer-in-children-cancer. Andra. S, Yessie M. (2013). Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika Asthi, P. (2019). Pengaruh Mendongeng Pada Kondisi Nyeri Penderita Leukimia Diruang Rawat Inap Hematologi Onkologi Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Universitas Airlangga Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018. Bagdonav, S. (2014). Honey In Medicine : A Review. Retrieved From Hoffbrand, A.V., Moss, P.A.H. dan Pettit, J.E. (2015). Essential Haematology. 5th. Asia : Blackwell Publishing. hal. 129-181. Kozlowska, K., & Khan, R. (2011). A developmental, body-oriented intervention for children and adolescents with medically unexplained chronic pain. Clinical ChildPsychology and Psychiatry, 16(4), 575�598. Blevins Young Jo. Oral Health Care For Hospitalized Children. Pediatric Nursing/September-October 2011/Vol. 37/No. 5. Damayanti, T K. (2016).Gambaran Strategi Koping Anak Dengan Leukemia Limfostik Akut Dalam Menjalani Terapi Pengobatan.(Fakultas Kedokteran Universits Udayana). Delimasa, K. (2012). Media Boneka Tangan Dapat Meningkatkan Ketrampilan Bercerita. Departemen Pendidikan Nasional. (2015).

Kamus besar Bahasa Indonesia. Edisi 3. Jakarta : Balai Pustaka. Friehling, E., Ritchey, K., David. G., & Bleyer, A. (2015). Acute lymphoblastic leukemia 20th ed. B. E. Kliegman MR, Stanton B, ed., Nelson Textbook of Pediatrics, hlm. 2437-2442. Kozier .(2011). fundamental keperawatan (konsep, proses, danpraktik). Jakarta: EGC. Hayati, Kardina, and Arphyta Wahyuni. 2018. �Grandmed Lubuk Pakam Tahun 2018.� Jurnal Keperawatan & Fisioterapi (JKF) 1(1):66�72. Perwitosari, A. Karini, M. (2019). Pengaruh Mmendongeng Terhadap Penurunan Kecemasan Pada Anak Penderita Kanker. Universitas sebelas maret Ribera, JM. (2010). Acute Lymphoblastic Leukimia In Adolescents And Young Adults. Hematol Oncol Clin North Am Samudin, Ani. (2019). Asuhan Keperawatan Anak Dengan Leukimia Limfositik Akut Di Ruang Melati RSUD Abdul Wahab Samarinda. Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur WHO (12 Desember 2013).Internacional Agency for Research on Cancer.