TROUBLESHOOTING AS A FORM OF SCAFFOLDING IN THE TEACHING OF WRITING

Suharno Suharno(1*)


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Arti “troubleshooter” adalah seseorang yang mencari dan memperbaiki kerusakan mesin atau seseorang yang bertanggungjawab dengan mencari dan menghilangkan sumber gangguan dalam proses kerja. (Morris, 1969). Istilah semacam itu kemudian diadopsi dalam pengajaran menulis. “Trouble shooting” dalam konteks ini adalah salah satu moda mengajar–belajar dengan melibatkan sekelompok kecil mahasiswa senior untuk membantu teman sejawat (teman sekelas atau adik kelas) mengatasi gangguan atau masalah dalam ketrampilan menulis. Mereka diharapkan dapat mengoreksi atau memeriksa masalah–masalah bahasa. Karena proses belajar–mengajar sudah berubah dari yang berpusat pada guru ke yang berpusat pada murid, kegiatan “trouble shooting” menjadi cukup penting dalam proses belajar-mengajar. Berdasarkan observasi, “trouble shooting” mempunyai beberapa manfaat untuk guru dan murid seperti membagi beban guru, memberi suasana yang lebih demokratis dalam ruang kelas, meningkatkan rasa bahasa, memberi kepercayaan atau tanggungjawab kepada para murid.


Keywords


trouble shooting; proses belajar–mengajar; ketrampilan menulis

Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 141 times
PDF - 12 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2011 LENSA



Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0

 

 

Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya (Lensa)
p-ISSN: 2086-6100; e-ISSN: 2503-328X
Published by: Faculty of Foreign Language and Culture,Universitas Muhammadiyah Semarang

 

Member of: