STATUS AND POWER REFLECTED BETWEEN TEACHER AND STUDENT IN LANGUAGE CLASSROOM (A CASE IN RINSO’S ADVERTISEMENT)

Muhimatul Ifadah(1*)


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa bahasa digunakan sebagai media ataupun alat komunikasi. Bahasa merupakan sebuah sistim yang sudah terorganisir dimana setiap unit mempunyai peran yang sangat penting yang juga sangat penting bagi unit unit yang lain. Di sisi lain, bahasa merupakan fenomena social, yang dapat dimaknai sebagai alat komunikasi antara orang per orang. Sebagai sebuah fenomena social, maka kemampuan bahasa seseorang berkembang sesuai dengan lingkungan dan siapa saja yang berada dalam lingkungan tersebut. Beberapa ahli menyatakan bahwa bahasa sebetulnya sebuah ilmu yang kompleks, tidak ada satupun sistim bahasa yang lebih mudah ataupun lebih buruk daripada yang lain. Komunikasi akan terjalin manakala pesan yang disampaikan oleh pembicara dapat diterima oleh sang pendengar/pembaca; selama mereka tidak berbagi konsep yang sama, maka komunikasi tidak akan berjalan dengan baik. Dalam pragmatic, pesan yang disampaikan oleh pembicara bisa saja dimaknai lain karena beberapa factor, seperti misalnya facial gestures ataupun mimic muka yang menyiratkan hal yang berbeda dengan pesan yang semestinya. Perbedaan status ataupun background , jenis kelamin, umur, dan juga power antara pembicara dan penerima pesan tidak dipungkiri sering menyebabkan penafsiran yang berbeda yang akan menyebabkan terhambatnya proses komunikasi, sehingga bisa dikatakan bahwa tujuan dari komunikasi yang efektif tidak terjadi. Hal ini pula yang masih sering terjadi dalm lingkup ruang kelas yang melibatkan antara guru dan murid dalam interaksinya. Perbedaan status dan power antara guru dan murid sering menyebabkan proses belajar mengajar menjadi tendensius, sehingga tujuan dari pengajaran mendapatkan kendala. Untuk memahami itu semua, setiap pembicara dan penerima atau pendengar harus memahami dan menerima prinsip komunikasi,dalam arti mampu menterjemahkan segala factor non bahasa yang terjadi secara berdampingan dengan proses komunikasi, agar proses komunikasi berjalan dengan baik, sehingga tujuan dari komunikasi akan berhasil dicapai.

Kata kunci: classroom interaction,power, status,politeness.

Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 123 times
PDF - 38 times

DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.2.1.2012.%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c)



Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0

 

 

Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya (Lensa)
p-ISSN: 2086-6100; e-ISSN: 2503-328X
Published by: Faculty of Foreign Language and Culture,Universitas Muhammadiyah Semarang

 

Member of: