Dongeng sebagai Sarana Pembentukan Kepribadian pada Era Disrupsi (Fairy Tales as a Means of Personality Formation in the Era of Disruption)

Krisna Pebryawan(1*), Luwiyanto Luwiyanto(2)


(1) Universitas Widya Dharma Klaten
(2) Universitas Widya Dharma Klaten
(*) Corresponding Author

Abstract


Era disrupsi membawa pengaruh yang kuat bagi perubahan kehidupan masyarakat. Inovasi teknologi yang terjadi di semua sektor membuat persaingan semakin ketat. Literasi lama seperti membaca, menulis, dan matematika tidak cukup untuk sekedar bertahan hidup. Dibutuhkan literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Sehingga tidak hanya intelegensinya yang perlu ditingkatkan, tetapi juga aspek manusianya juga perlu ditingkatkan supaya lebih manusiawi dan berbudaya. Oleh karenanya, dongeng sebagai warisan budaya yang memiliki nilai kearifan lokal perlu diajarkan kepada generasi X dan Y untuk lebih arif memaknai era disrupsi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Adapun data yang digunakan berupa kumpulan dongeng yang didapat dari berbagai sumber. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa dongeng dapat dimanfaatkan sebagai pembentuk kepribadian anak. Nilai yang bisa dipetik dari cerita dongeng adalah nilai religi, nilai sosial (kesetiawakanan), dan nilai budaya. Selain ketiga nilai tersebut, dongeng juga mengandung pendidikan seperti kerjasama, kerja keras, pantang menyerah dan kemandirian.

Kata kunci: dongeng, kepribadian, disrupsi


ABSTRACT

The disruption era brings a strong influence on the changing lives of the people. Technological innovations that occur in all sectors make competition even tighter. Old literature such as reading, writing, and mathematics is not enough to just survive. Data literacy, technology literacy and human literacy are needed. So that not only the intelligence needs to be improved, but also the human aspect also needs to be improved so that it is more humane and cultured. Therefore, fairy tales as cultural heritage that have the value of local wisdom need to be taught to generations X and Y to be wiser in understanding the disruption era. The method used in this research is descriptive qualitative. The data used in the form of a collection of fairy tales obtained from various sources. Based on the results of the analysis conducted, it was found that fairy tales can be used as the formation of the child's personality. The values that can be taken from fairy tales are religious values, social values (kesetiawakanan), and cultural values. In addition to these three values, fairy tales also contain education such as cooperation, hard work, never give up and independence.


Keywords


fairy tales; personality; disruption

Full Text:

PDF

References


Abasi, M., & Soori, A. (2014). Is Storytelling Effective in Improving the English Vocabulary Learning among Iranian Children in Kindergartens? International Journal of Education and Literacy Studies, volume 2, nomor 3:, 7-11. doi:10.7575/aiac.ijels.v.2n.3p.7

Hendri. (2013). Pendidikan Karakter melalui Dongeng. Bandung: Simbiosa Rekatama.

Ipriansyah. (2011). Peran Dongeng bagi Perkembangan dan Pembentukan Kepribadian Anak. Ta'dib, volume 16, nomor 1, 77-92. Diambil kembali dari http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/tadib/article/view/55/50

Kisworo. (2016). Revolusi Mengajar. Jakarta: Asik Generation.

Nuryanto, S. (2017). Peningkatan NIlai-nilai Karakter dengan Metode Mendongeng CAS CIS CUS di BA Aisyiyah Kaponan 2 Ponorogo. Journal of Nonformal Education, Vol 3, No 1 (2017), 11-20. doi:10.24914/pnf.v3i1.8732

Padmaningsih, D., Sujono, & Suwanto, Y. (2016). Kearifan Lokal yang Terdapat dalam Dongeng Tradisional Jawa. Penggalian Nilai-nilai Budi Pekerti dan Kearifan Lokal Melalui Pengajaran Bahasa dan Sastra Jawa (hal. 102-112). Surakarta: Pendidikan Bahasa Jawa, FKIP, UNS.

Patimah. (2015). Efektifitas Metode Pembelajaran Dongeng dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Anak pada Jenjang Sekolah Usia Sekolah Dasar. Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 2, nomor 2, 1-19. doi:http://dx.doi.org/10.24235/al%20ibtida.v2i2.123

Pebryawan, K. (2016, Oktober). Pembelajaran Budi Pekerti dalam Novel Clemang-clemong Karya Suparto Brata. Aditya, Vol 9, nomor 2, 158-168.

Ristekdikti. (2016). rirn.risetdikti. Diambil kembali dari Direktorat Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia: http://rirn.ristekdikti.go.id

Sanjaya, W. (2014). Penelitian Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Vitali, F. (2016). Teaching with Stories as the Content and Context for Learning. Global Education Review, Volume 3, nomor 1, 27-44. Diambil kembali dari http://ger.mercy.edu/index.php/ger/article/view/153/182


Article Metrics

Abstract view : 848 times
PDF - 16 times

DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.1-14

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya is licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0

 

 

Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya (Lensa)
p-ISSN: 2086-6100; e-ISSN: 2503-328X
Published by: Faculty of Foreign Language and Culture,Universitas Muhammadiyah Semarang

 

Member of: